Berkebun di Kampus ITS Surabaya

Kegiatan berkebun tidak hanya memberi makan tubuh tetapi juga jiwa, kurang lebih seperti itu kata Alfred Austin, seorang penggiat gardening di Amerika Serikat. Aktivitas berkebun bagi masyarakat kota  mungkin merupakan hal yang terasa asing apalagi untuk mahasiswa teknik di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang setiap harinya sering berkutat dengan mesin, elektronika, komputer maupun zat-zat kimia di laboratorium. ITS yang dikenal sebagai kampus besar, besar dari prestasinya maupun luasnya. Begitu luasnya, hingga ada banyak lahan kosong di ITS yang belum termanfaatkan dengan baik. Dan tentunya amat sayang jika dibiarkan “menganggur”.

Belakangan ini mengemukan isu berkurangnya luas arel pertanian di Pulau Jawa. Dimana fakta menunjukkan 20 tahun yang lalu, Pulau Jawa ini 70% pedesaan 30% kota, sedangkan saat ini 60% kota dan 40% pedesaan. Percepatan pertumbuhan yang sangat luar biasa, sehingga konversi dari lahan pertanian ke non pertanian terlalu cepat. Dengan makin tumbuh dan bergesernya rural menjadi urban yang modern, tentu hal ini cukup “mengganggu” bagi ketahanan pangan di masa depan.

Kesadaran akan kebutuhan udara yang bersih, kenyamanan dalam lingkungan hidup makin membuat kegiatan berkebun diterima oleh banyak mahasiswa ITS. Kegiatan berkebun di lahan sempit yang lazim disebut urban farming.

Sejarah Urban Farming

Urban agriculture sebagai cikal bakal urban farming sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu, tepatnya di Machu Pichu di mana sampah-sampah rumah tangga dikumpulkan menjadi satu dan dijadikan pupuk. Air yang telah digunakan masyarakat dikumpulkan menjadi sumber pengairan melalui sistem drainase yang telah dirancang khusus oleh para arsitek kota di masa itu.

Pada Perang Dunia II di Amerika dicanangkan program “Victory Garden” yaitu membangun taman di sela-sela ruang yang tersisa. Program ini ini kemudian berkembang menjadi gerakan urban farming. Dari program tersebut pemerintah Amerika Serikat mampu menyediakan 40% kebutuhan pangan warganya pada waktu itu.

Perhatian akan manfaat Urban Agriculture menjadi berkembang ketika masyarakat di berbagai belahan dunia menyadari bahwa semakin hari pertumbuhan penduduk semakin besar dan kebutuhan akan makanan juga bertambah, sementara luas lahan pertanian semakin berkurang. Maka mulailah lahan-lahan kosong di daerah perkotaan dipakai sebagai tempat bercocok tanam. Mulai dari lahan satu meter persegi di depan rumah hingga atap-atap gedung-gedung pencakar langit, kini dimanfaatkan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan Urban Farming.

Manfaat Urban Farming

Semenjak kegiatan urban farming ini diluncurkan, ada banyak mahasiswa yang sangat antusias dengan urban farming, namun tidak sedikit yang masih beranggapan urban farming adalah kegiatan yang membuang waktu. “Untuk apa melakukan urban farming, toh tinggal beli sayuran di pasar sudah bisa, ngapain capek-capek menanam sendiri?” kurang lebih seperti itu mungkin kata mereka. Namun disadari atau tidak, ada banyak manfaat yang bisa didapat dari urban farming yang bisa membuat anda berfikir ulang jika tidak melakukan urban farming  Beberapa manfaat tersebut antara lain :

Pertama, lahan semakin produktif dan subur. Dengan adanya urban farming, lahan yang tadinya tidak terurus, tidak terpakai menjadi terolah dengan baik. Ada pemupukan yang bisa menambah kesuburan tanah. .

Kedua, memenuhi kebutuhan pangan. Dengan sayuran yang kita panen dari urban farming ini, kita tak perlu membeli sayuran dari pasar, bisa pula dimasak bareng satu angkatan ataupun satu himpunan. Bisa mempererat satu angkatan kan?

Ketiga, memacu kreatifitas.  Urban farming dikenal sebagai berkebun di  lahan yang sempit maka oleh karena itu kita dituntut untuk kreatif mengembangkannya. Sebagai contoh hal kreatif yang bisa dilakukan adalah dengan vertikultur (pertanian bertingkat) bisa meningkatkan jumlah tanaman yang di tanaman, dengan tambulampot (tanaman buah dalam pot) atau ketika kita yang sebagai mahasiswa terbiasa disibukkan dengan aktivitas perkuliahan maupun organisasi, dapat membuat alat penyiram otomatis sehingga tak perlu menyiram tanaman setiap harinya.

Keempat, menyegarkan udara di sekitar kita sekaligus mengurangi laju pemanasan global. Think Globally, act homely.

Kelima, sebagai terapi jiwa dan mengurangi kadar stres. Stres sudah menjadi bagian dari keseharian kaum urban atau masyarakat kota, apalagi mahasiswa entah stres karena aktivitas rutin, aktivitas organisasi himpunan bem ukm yang padat, stres dengan tugas-tugas kuliah dan kerja.

Mulai sekarang, melihat banyak manfaat dari berkebun atau urban farming, ayo kembangkan dan gencarkan kegiatan ini seperti potongan bait lagu semasa kanak-kanak  Ayo kawan kita berkebun… menanam jagung di kebun kita… Ambil cangkulmu…

tanaman tomat yang tumbuh pasca dua hari penanaman